Studi Pendahuluan tentang Perspektif Ilmuwan Islam dan Katolik dalam Dilema Etika Surplus Embrio serta Opsi Pemecahan Masalahnya

Main Article Content

Agung Dewanto
Ita Fauziah Hanoum
Diany Ayu Suryaningtyas
Shofwal Widada
Ihsan Yudhitama
Galuh Dyah Fatmala
Ahmad Muzzaky

Abstract

Teknologi reproduksi berbantu sudah berkembang di
Indonesia dan banyak membantu masyarakat dalam memperoleh kehamilan.
Surplus embrio dari proses simpan beku merupakan konsekuensi kemajuan
teknologi ini sendiri. Dilema etika muncul tentang bagaimana sebaiknya
mengelola surplus embrio. Di sisi lain, peraturan perundangan di Indonesia
saat ini hanya memperbolehkan untuk memperpanjang masa penyimpanan
atau membuang surplus embrio.
Metode: Metode penelitian menggunakan Participant of observation dengan
purposive sampling. Penelitian ini merupakan intisari pemikiran dari ilmuwan
dan pegiat bioetika di Indonesia yang dikemukakan dalam Seminar dan Diskusi
Bioetika dalam Pelayanan Teknologi Reproduksi Berbantu, Agustus 2016 di
Yogyakarta.
Hasil: Pertimbangan etika tentang bagaimana sebaiknya surplus embrio
diperlakukan dibahas oleh tiga ilmuwan dengan latar belakang agamawan,
Prof. Jenie dan Prof. Almirzanah beragama Islam sedangkan Dr. Kusmaryanto
beragama Katolik. Ketiganya berpendapat bahwa solusi manajemen surplus
embrio sangat erat kaitannya dengan diskursus agama. Ketiganya menyatakan
bahwa status moral dari embrio penting dipahami sebagai landasan sikap
terhadap surplus embrio. Pemusnahan embrio dianggap tidak etis oleh ketiga
ilmuwan. Ketiganya menyetujui donasi embrio untuk pasangan infertil lain dengan penyesuaian aturan terhadap kearifan
lokal Indonesia. Selanjutnya, Prof. Umar dan Prof. Almirzanah memandang penggunaan surplus embrio untuk penelitian
masih kontroversial namun tidak menutup kemungkinan diperbolehkan dengan berbagai syarat dan memperhatikan konteks
serta asas kemanfaatan. Sedangkan Dr. Kusmaryanto menyatakan ketidaksetujuan surplus embrio untuk penelitian atas
dasar interpretasi bahwa embrio mempunyai makna intrinsik yang harus dilindungi.
Kesimpulan: Latar belakang agama mempengaruhi perspektif ilmuwan tentang bagaimana memandang status embrio dan
pilihan tindakan terhadap surplus embrio. Perlu dilakukan penelitian mendalam multidisipliner dari klinisi, agamawan,
ilmuwan, pakar hukum dan pasien untuk mengakomodasi pilihan tindakan terhadap surplus embrio di Indonesia.

Article Details

How to Cite
Studi Pendahuluan tentang Perspektif Ilmuwan Islam dan Katolik dalam Dilema Etika Surplus Embrio serta Opsi Pemecahan Masalahnya. (2026). Jurnal Etika Kedokteran Indonesia, 2(2). https://ilmiahindonesia.id/index.php/jeki/article/view/114
Section
Articles

How to Cite

Studi Pendahuluan tentang Perspektif Ilmuwan Islam dan Katolik dalam Dilema Etika Surplus Embrio serta Opsi Pemecahan Masalahnya. (2026). Jurnal Etika Kedokteran Indonesia, 2(2). https://ilmiahindonesia.id/index.php/jeki/article/view/114