Etika Pemasaran Rumah Sakit dan Supply-Induced Demand dalam Pelayanan Kesehatan di Indonesia: A Scoping Review
Main Article Content
Abstract
Dalam sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang mencakup 278,1 juta individu, praktik pemasaran rumah sakit dan supply-induced demand (SID) memiliki mekanisme dasar yang sama, yaitu asimetri informasi, tetapi masih banyak diteliti secara terpisah. Kedua fenomena ini menimbulkan pertanyaan bioetik fundamental mengenai otonomi pasien, beneficence, non-maleficence, dan keadilan distributif dalam sistem cakupan kesehatan semesta. Scoping review ini bertujuan memetakan bukti yang tersedia mengenai etika pemasaran rumah sakit dan indikator SID dalam pelayanan kesehatan di Indonesia serta mengidentifikasi irisan antara kedua domain tersebut, serta menganalisis temuan melalui kerangka bioetika yang mencakup empat prinsip etika biomedis, teori kewajiban fiduciary, dan kerangka etik WHO untuk cakupan kesehatan semesta. Tinjauan ini mengikuti metodologi JBI untuk scoping review dan pedoman pelaporan PRISMA-ScR. Pencarian dilakukan pada tujuh basis data, yaitu PubMed, Scopus, Web of Science, Google Scholar, Garuda, SINTA, dan Neliti, pada 20 Mei 2026 untuk studi empiris yang dipublikasikan sejak tahun 2020. Protokol terdaftar di OSF dengan DOI: 10.17605/OSF.IO/S275Z. Seleksi artikel dilakukan secara independen oleh dua penelaah. Data diekstraksi menggunakan kerangka Information Asymmetry Pathway (IAP) yang terdiri atas tiga domain. Sebanyak 23 studi memenuhi kriteria inklusi. Empat belas studi membahas pemasaran rumah sakit, termasuk pemasaran digital, bauran promosi, word of mouth, dan branding, tetapi hanya satu studi yang menilai kepatuhan etik. Sembilan studi mendokumentasikan indikator SID, termasuk upcoding (10–11,9%), admisi yang berpotensi tidak diperlukan (17,8–18,9%), tingginya angka sectio caesarea, dan tekanan pembiayaan JKN. Tidak ada studi yang secara langsung menguji hubungan antara pemasaran rumah sakit dan SID. Etika pemasaran rumah sakit dan SID di Indonesia masih diteliti dalam dua aliran literatur yang terpisah, meskipun keduanya berbagi mekanisme dasar berupa asimetri informasi. Diinterpretasikan melalui empat prinsip etika biomedis, teori kewajiban fiduciary, dan kerangka etik WHO untuk cakupan kesehatan semesta, kesenjangan ini berimplikasi signifikan pada otonomi pasien, informed decision-making, konflik kepentingan, dan keadilan distributif dalam JKN. Penelitian primer selanjutnya perlu mengkaji secara empiris hubungan antara paparan pemasaran rumah sakit, ekspektasi pasien, dan pola utilisasi layanan.
Article Details

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.