Etika Menyampaikan Informasi Diagnosis Penyakit Terminal kepada Pasien sesuai Konteks Budaya Indonesia
Main Article Content
Abstract
Sikap dan perilaku pasien terhadap berita buruk, misalnya
diagnosis penyakit terminal ataupun kondisi medis buruk lainnya, harus
ditangani secara khusus. Di balik kewajiban dokter untuk bersikap
jujur dan mengedepankan autonomy pasien, prinsip etik beneficence
dan non-maleficence menjadi pertimbangan dalam penahanan sebagian
atau seluruh informasi yang dapat melemahkan psikis atau fisik pasien.
Selain itu, budaya patrilineal dan matrilineal di Indonesia yang masih
kental juga mempengaruhi keluarga pasien saat turut serta membuat
keputusan atas kondisi medis pasien. Prima facie dalam masalah ini
perlu ditinjau dengan mempertimbangkan faktor budaya, kondisi fisik
dan psikis pasien, serta Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI)
yang menjadi pilar dari pertimbangan etik kedokteran di Indonesia
Article Details

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.